Natalia

Aku merasa haru kali ini,
bukan seperti yang biasanya, 
banyak riung gema suara mendengung ditelinga, 
aku tak bisa menggapainya. 

Nampak terdengar keras seperti dekat, 
namun nyatanya jauh. 
Seperti baru kemarin aku berjumpa, 
banyak sekali melayangkan canda, 
seolah keakraban ini tak akan ada ujungnya. 

Terlena aku mendengannya, 
mengikuti alunan dan buayan yang menggodaku, 
sehingga aku lupa dengan apa yang ada. 

Sungguh terasa seperti ada yang menggores dihati, 
kecil namun rasanya perih, bukan cinta. 
Ingin sekali aku teriak, 
karena semua ini sudah berkumul di kepalaku, 
namun aku sungguh tak sanggup untuk membuangnya. 

Binarnya masih begitu terasa kuat, 
akan kah rona ini hilang teman? 
Sekarang kau sudah memutuskan,
padahal kemarin baru saja kita bergandengan, di acara yang menurut mu sangat penting;
dan aku merasakan itu. 

Senyum mu nampak lues terlihat, gandengan mu terasa tulus ku rasa. 

Aku sendiri pun bingun, 
apa yang sekarang harus ku perbuat, 
sedangkau kau akan pergi esok hari, 
tanggal 1 tepatnya. 

Banyak rencana dan impian telah ku bagi dengan mu, 
namum apalah dayaku.
Jika memang itu mau mu, ya silahkan. 
Aku tak bisa menahan mu, sungguh. 

Semua telah sepakat akan hal itu, 
Mulutku berkata iya, 
namun jujur tidak untuk hati ku.

Kata terakhirmu membuat ku haru,
Aku tak menyangka kau bisa tegar mengatakan itu,
dengan senyum palsu namun aku rasa kau pun merasa sedih akan hal itu, aku tahu.

"Aku mau pindah, tanggal 1 ini aku sudah mulai kerja, mungkin kita tidak akan bisa sering bertemu lagi, jadi terima kasih untuk selama ini, jaga kesehatan mu", begitu ucapnya, natalia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.